Muslim di Amerika: Antara Beragama, Bernegara dan Menjadi Muda Oleh Firman Parlindungan, S.Pd., M.Pd., Ph.D Alumni UNISMA Malang

Firman Parlindungan, S.Pd., M.Pd., Ph.D

Viewed: 171 times.  

Masa kuliah adalah periode penting bagi setiap mahasiswa dalam mencari jati dirinya. Menemukan identitas sebagai bagian dari konstruksi sosial yang lebih luas tentu tidak mudah. Banyak sekali yang terjerumus dalam pemikiran “false-fallacy” yang akhirnya menyulitkan para mahasiswa memahami nilai kehidupan dalam berinteraksi dengan lingkungannya, terutama dalam konteks bertuhan. Di Indonesia, mungkin konsep hubungan agama dan negara tidak terlalu menarik untuk dibahas. Bangsa kita sudah sepakat bahwa negara dan agama adalah setali tiga uang yang harus saling mengisi. Menjalani kehidupan beragama berarti ikut serta membangun dan membela negara, dan menjalankan negara juga harus berlandaskan pada nilai-nilai agama. Indonesia menjamin bersatunya dua unsur ini dalam konstitusi yang sah, sehingga warga negara punya ruang “bebas” menganut agama yang diyakini.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Menjadi mahasiswa sudah sulit, dan menjadi mahasiswa yang taat agama lebih sulit lagi di Amerika, khususnya mahasiswa muslim. Walaupun konstitusi Amerika Serikat juga merujuk konsep Ketuhanan, faktanya beragama dan bernegara menjadi dua hal yang berbeda. Ruang kebebasan beragama pun sangat kecil walaupun ada undang-undang “religious freedom”. Ditambah lagi dengan konstruksi sosial masyarakat yang liberal – bahwa kebebasan dan persamaan adalah nilai politik yang utama, semangat beragama pun semakin tergerus seiring dengan berkembangnya paham ini. Agama dinilai mengikat kebebasan individu. Oleh karena itu, agama tidak relevan lagi dengan modernitas negara dan harus ditinggalkan.

Perspektif ini yang menjadi tantangan terbesar mahasiswa muslim di Amerika. Mereka harus bergelut dengan persoalan sepele tapi sangat mengusik pikiran dan keyakinan. Seperti misalnya, mengapa pakaianmu diatur sedemikian rupa? Sementara trend dan mode busana masa kini semakin “terbuka”. Mengapa kamu tidak boleh makan pork, ham, atau minum alkohol? Sementara teman-temanmu yang lain bisa menikmatinya sambil berpesta pora. Mengapa kamu harus beribadah lima kali sehari? Sangat menyita waktu! Pertanyaan-pertanyaan ini tidak cukup hanya dijawab dengan argumen naskah liturgi atau risalah kenabian. Mahasiswa muslim di Amerika butuh penjelasan yang menembus batas nalar dan rasionalitas mereka, sehingga mereka mampu memberikan pemahaman mendasar untuk diri sendiri dan orang lain.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Konteks beragama dan bernegara bagi mahasiswa muslim di Amerika semakin sulit dengan berkembangnya era digital. Arus dan akses data yang besar menghantam mahasiswa muslim di Amerika untuk terus berkontemplasi tentang agamanya, identitasnya, dan bagaimana menjadi muda. Sebagian bisa bertahan dan tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip Islam. Sebagian lainya terpaksa berbelok arah menjadi Islam liberal. Tidak sedikit juga yang beralih agama.

Masjid Omar Ibn Elkhattab Amerika Serikat

Upaya Komunitas Muslim di Amerika dalam Menjaga Pemuda

Komunitas muslim di Amerika sangat solid yang ditandai dengan konektivitas antar-kelompok, pusat kajian, dan masjid-masjid. Melalui berbagai pendidikan formal dan informal, mahasiswa muslim di Amerika ikut serta dalam program-program yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan masyarakat, standar nasional pendidikan, multi-Bahasa dan budaya. Sekolah-sekolah berbasis Islam mulai banyak berdiri. Sayangnya sekolah ini tidak mendapat bantuan dana operasional dari pemerintah, sehingga harus dikelola dengan swadaya masyarakat. Akibatnya biaya sekolah pun tidak murah. Hanya sekitar 1% dari jumlah populasi siswa muslim yang bisa bersekolah di sekolah-sekolah Islam. Mahasiswa juga aktif terlibat sebagai pengurus masjid dengan berbagai agenda remaja dan kepemudaan. Di tengah pertarungan identitas yang sengit, komunitas muslim di Amerika terus berupaya meyakinkan para pemuda bahwa dalam Islam, gaya dan preferensi hidup juga menjadi perhatian. Lebih dari itu, upaya terus dilakukan dengan menunjukkan bahwa ajaran Islam dapat diterapkan untuk mengatasi tantangan kehidupan sehari-hari, seperti yang banyak terjadi di negara-negara mayoritas Muslim lainnya.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Beberapa upaya yang merangkul mahasiswa muslim di Amerika lebih bersifat top-down. Contohnya, ada program pendidikan, bimbingan dan kepemimpinan, seperti MY Connect (Muslim Youth Connect) melalui Muslim American Society (MAS) atau Islamic Society of North America (ISNA)’s Youth Programming Services Department (YPSD). YPSD berkomitmen sebagai pusat sumber daya satu atap untuk pemuda muslim di Amerika, termasuk kolaborasi dengan organisasi pemuda lainnya dan para peneliti tentang perkembangan pemuda Muslim di Amerika Serikat. Sedangkan di kampus-kampus, terdapat organisasi kemahasiswaan Muslim Students Association (MSA) yang secara ekstensif merangkul dan melayani kebutuhan mahasiswa muslim di kampus.

Pelajaran yang Dapat Dipetik

Kita perlu mendorong semangat gerakan mahasiswa dan kepemudaan yang mengarah ke penguatan akidah dan akhlak Islam. Seringkali di negara mayoritas muslim seperti Indonesia, mahasiswa tidak mendapat ruang dan perhatian untuk berkontribusi dalam aktivitas masjid, pusat kajian ataupun aktivitas desa lainnya. Sehingga mahasiswa atau pemuda muslim di Indonesia hanya menjadi penonton dan penggembira suasana. Kecanggihan teknologi digital 4.0 harus dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk kepentingan syiar Islam. Dengan demikian, mereka dapat merasakan pentingnya membela Islam dalam kehidupannya yang akhirnya menumbuhkan semangat menjaga keutuhan negara. Jangan menunggu mahasiswa kita dirusak oleh paham-paham “false fallacy” seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Kajian-kajian tentang ubudiyah Islam di media sosial juga perlu digelar di kampus dengan guru yang mumpuni agar mahasiswa tidak kehilangan arah dengan hanya berguru pada internet. Mahasiswa harus diajak untuk belajar Islam pada guru yang benar dan tuntas agar mampu menjadi penerus generasi yang madani. Akhirnya, “kalau pandai meniti buih, selamat badan sampai ke seberang; Jika dapat mengatasi kesukaran tentu maksud dapat dicapai.”

  • Penulis Firman Parlindungan, S.Pd., M.Pd., Ph.D, adalah alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Inggris Program Pascasarjana UNISMA Malang yang melanjutkan program doktoral di Ohio State University, Amerika Serikat
  • Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
  • Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
  • Naskah dikirim ke alamat e-mail: kui@unisma.ac.id
  • Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.
Need Help? Chat with us