Nasi, Jejak Gus Dur, dan Frakfurt yang Multikultural Oleh Dr. Ari Ambarwati, S.S., M.Pd Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNISMA Malang

Viewed: 420 times.  

Berburu nasi. Itulah keinginan sederhana tiga sahabat (bu Dyah Werdiningsih, bu Sri Wahyuni, dan pak Hasan Busri dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Islam Malang), yang saya amini saat kami baru menginjakkan kaki di Frankfurt Am Main, paruh ketiga dan keempat Mei, 2015. Kami berempat mendapatkan undangan dari Prof. Arndt Graf, ahli Asia Tenggara, khususnya budaya Indonesia dan Melayu, guru besar di Goethe Universitat, Frankfurt, Jerman, untuk membentangkan kertas kerja terkait pemartabatan bahasa Indonesia (dan Melayu). Guru besar yang banyak menulis penelitian tentang Indonesia itu rupanya pengagum berat Indonesia dan Gus Dur. Terbukti, di meja kerjanya di Goethe Universitat, kampus Bockenheim, Senckenbergerlage 31-33, Prof Graf, demikian ia biasa disapa, hanya menyimpan sedikit foto, termasuk foto saat Kunjungan Gus Dur saat menjadi Presiden Indonesia, pada Februari 2000. Ia juga menyimpan kain batik dan wayang kulit dari Indonesia, yang ditempel di dinding meja kerjanya. “Ingatan saya tentang Indonesia ada tiga, batik, wayang, dan Gus Dur.” Katanya saat saya bertanya, apa pentingnya benda-benda dari Indonesia itu di meja kerjanya.

Prof Arndt Graf (kiri) dan Gus Dur (kanan) foto: Ari Ambarwati

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Frankfurt Am Main, adalah kota terbesar di negara bagian Hessen, Jerman. Kota pusat perdagangan ekonomi Eropa ini juga merupakan kota terbesar kelima di Jerman. Sebelum berangkat, saya sudah mencari tahu informasi tentang kota ini di internet. Kota multikultural, itulah label yang tersemat untuk Frankfurt. Tagline Frankfurt sebagai kota multikultural, senapas dengan spririt Universitas Islam Malang, yang juga menasbihkan diri sebagai kampus multikultural. Multikultural berarti multietnis, multibudaya, multiagama dan kepercayaan, serta tentu saja multikuliner. Artinya kuliner Asia yang basisnya nasi seharusnya mudah ditemukan.

Hari pertama kami langsung istirahat karena kami tiba di Frankfurt Jumat, pukul 9 malam, atauhari Sabtu pukul 03.00 waktu Indonesia. Hari kedua kami memutari (setelah sebelumnya sarapan biskuit dan kudapan ringan yang kami bawa dari Indonesia) Hauptbahnhof (Hbf; stasiun utama di kota Frankfurt) mendapati kentang goreng dan fish chips (ikan goreng) yang dimakan dengan saus tartar, yang menurut pak Hasan, bu Dyah dan bu Yuni rasanya ajaib. Saya mencoba berdamai dengan dua porsi makanan yang kami lahap ramai-ramai berempat. Menyesal karena kami tidak membawa saus tomat, saus sambal ataupun kecap yang bisa jadi teman makan kentang dan fish chips tadi. Hari kedua kami lewatkan tanpa nasi.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Tiba di hotel saya diminta untuk meminta air panas untuk membuat mie instan, yang juga kami bawa dari Indonesia. Kami berangan-angan makan mie instan hangat dengan topping abon yang juga kami bawa dari tanah air. Nah, saya bergegas turun ke resepsionis. Begitu saya minta air panas, ia mengerutkan kening sembari mengatakan pada saya bahwa saya bisa mendaparkan air panas langsung dari kran, begitu juga air minum, “You can drink the water directly from the tap,” Baiklah. Saya baru sadar bahwa saya tengah benar-benar berada di Jerman. Negara yang terkemuka di bidang industri pengolahan air minumnya. Di Indonesia, pihak hotel selalu menyediakan air minum kemasan sebagai bagian dari pelayanan. Dalam hati saya menyesal mengapa membuang uang 3 Euro untuk dua botol air kemasan yang rasanya bercampur soda sebagai persediaan minum kami di hotel. Saya bisa paham mengapa petugas resepsionis mengernyitkan dahi dan menatap saya heran ketika saya meminta air panas dan air dingin. Hahaaa…saya kembali ke kamar dengan senyum kecut karena bisa membayangkan bagaimana reaksi teman-teman saat saya katakan kita akan minum air kran….

Penulis di depan pintu masuk Goethe Universitat Kampus Bockenheim, Frankfurt, Jerman, Mei 2015. Foto: Ari Ambarwati

Jadilah kami menikmati mie instan air panas dari kran sebagai ‘kuah’nya. Bismillah, kami akan sehat dengan air higienis itu. Sejak saat itulah saya ditahbiskan sebagai tukang cethik geni (orang yang memasak air) oleh teman-teman, heheee..sungguh pengalaman yang tak terlupakan. Saya memahami kendala psikologis teman-teman yang segan meminum air langsung dari kran, maka saya juga dengan senang hati mengisikan botol-botol mereka dengan air kran daripada harus membuang Euro demi sebotol air minum mineral. Beres urusan air putih, kami masih punya PR untuk menemukan resto yang menyediakan nasi putih sesegera mungkin. Perut Indonesia memang tak bisa jauh dari nasi.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Hari ketiga kami lewatkan( masih) tanpa nasi karena kami memutuskan untuk ke Paris dengan kereta cepat ICE. Seharian di Paris kami bertahan dengan biskuit, jelly, coklat, permen, dan juga roti yang kami beli di stasiun Hbf, dan tentu berbotol-botol air kran. Saat di menara Eiffel kami mengganjal perut dengan kue wafel dan crepes dengan isi vla dan coklat yang cukup membuat perut kami anteng hingga kembali ke Frankfurt hampir tengah malam.

Hari keempat kami bertekad harus mendapatkan nasi. Setelah berselancar di internet dan bertanya pada teman-teman yang sudah pernah ke Frankfurt dan berbekal peta kota Frankfurt kami menyusuri jalan sekitar Hbf. Akhirnya langkah kami terhenti di Elbestrabe 15. Thai Fun Halal Resto, persis seperti yang disarankan kawan saya. Kami  masuk dan memesan dua porsi nasi bebek yang disajikan dengan tumis sayur. Sebelumnya kawan saya mengingatkan bahwa porsi makanan di resto ini besar untuk ukuran perut Indonesia, dan biasanya cukup untuk dua orang. Alhasil, kami berempat mengeroyok dua porsi nasi bebek dengan suka cita. Sebelum pulang, kami memesan lagi dua porsi nasi bebek untuk makan malam. Dan, penjual bebek halal asal Thai tersebut menambahi porsi nasi pesanan kami, dengan senyum mengembang. Alhamdulillah… Frankfurt mengajarkan teladan pada saya, bahwa tagline multikultural, benar-benar menjadi napas perjuangan kota yang menjadi tempat filsuf Jerman, John Wolfgang menebar benih penghargaan pada keberagaman. Layaknya juga Universitas Islam Malang, yang tengah menapaki jalan multikulturalismenya.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

  • Penulis Dr. Ari Ambarwati, S.S., M.Pd adalah Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Islam Malang (UNISMA Malang)
  • Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
  • Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
  • Naskah dikirim ke alamat e-mail: kui@unisma.ac.id
  • Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Need Help? Chat with us