Kuliah Lapangan di Negeri Gajah Putih Oleh Retno Wulan Sekarsari Dosen FIA UNISMA Malang

Viewed: 106 times.  

Bagi saya pribadi, bisa melanjutkan jenjang studi melalui program Double Degree di luar negri rasanya seperti mimpi. Saya akan membagikan sepenggal kisah dari kehidupan saya, yang tidak terlupakan.

Singkat cerita saya adalah alumni mahasiswa Double Degree di Burapha University, Thailand. Rasa senang, kaget, cemas, dan gembira bercampur aduk menjadi satu, ketika saya menginjakkan kaki saya di Thailand.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Waktu itu, saya tidak terlalu bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Tetapi saya tidak menyerah begitu saja, saya belajar dan terus belajar. Bayangkan, betapa stresnya saya karena semua materi mata kuliah, diskusi, presentasi serta penjelasan dari dosen semua dalam bahasa Inggris. Setiap malam, saya berusaha belajar secara otodidak sampai tengah malam. Dan akhirnya ke’stres’an pun berlalu. Saya bisa melewatinya dengan baik.

Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba, akhirnya saya terbang ke Thailand bersama teman-teman dari Indonesia. Waktu itu, kami hanya berlima. Kami dikirim ke BuraphaUniversity, dan diterima pada Batch III di Faculty Political Science and Law.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Kehidupan perkuliahan di Thailand sangat menarik sekali dan sangat menyenangkan. Di Burapha University terutama pada fakultas dan jurusan saya mahasiswa bebas melakukan eksperimen. Hampir setiap mahasiswa di setiap mata kuliah mendapatkan tugas sebuah project. Project ini bebas dikakukan secara mandiri, berkelompok dengan teman sekelas, atau berkelompok dengan mahasiswa lokal (Thailand). Output dari project tersebut minimal adalah sebuah konsep pemikiran besar yang menghasilkan problem solving yang bisa diterapkan secara nyata. Sistem penilaian yang diberikan oleh dosen bukan hanya didasarkan hasil akhir, tapi beliau-beliau juga melihat seberapa besar effort kami dalam proses menyelesaikan tugas tersebut.

Dosen-dosen Thailand sangat ramah dan penyayang. Beliau-beliau tidak pernah menolak apabila kami meminta konsultasi dan bimbingan, walau di luar mata kuliah yang diampu. Hal yang paling menyenangkan ketika menempuh S2 di Thailand adalah “kelas lapangan”. Setiap hari Sabtu pagi, kelas S2 Internasional selalu digabung dengan kelas S2 lokal mahasiswa Thailand untuk melakukan kunjungan lapangan di berbagai pelosok tempat di Thailand. Kelas Lapangan dimulai pukul 06.00 dan berakhir pukul. 18.00, dan kadang juga selesai sampai pukul 21.00. Dalam kelas lapangan tersebut kami didampingi oleh dosen kelas Internasional, yang bertugas menerjemahkan bahasa lokal Thailand kepada kami. Dalam kelas lapangan tersebut ada sembilan orang mahasiswa Indonesia, tiga orang mahasiswa Kamboja, dua orang mahasiswa Vietnam, tiga orang mahasiswa Taiwan dan selebihnya mahasiswa lokal Thailand.

Kelas lapangan adalah kelas yang sangat menambah wawasan mahasiswa terutama tentang sosial, budaya dan inovasi dari masyarakat dan pemerintah Thailand. Hampir seluruh mahasiswa selalu excited dalam mengikuti kelas lapangan, karena selalu membuat kami haus belajar tentang hal-hal baru yang ada di negara tersebut. Terkadang saking excitednya, kami tidak merasa berada dalam grup kelas, tapi seperti rombongan tour yang menyenangkan. Pada hari Senin pagi, tugas kelas lapangan selalu dikumpulkan tepat waktu. Tugas dibuat sesuai apa yang kami pahami dalam ulasan pemateri ketika kelas berlangsung. Tidak terasa 1,5 tahun berlalu begitu cepat dan akhirnya saya harus kembali ke Indonesia.

Alhamdulillah saya lulus dari BuraphaUniversity dengan “nilai sempurna”, yaitu dengan IPK 4,00. Dari kelas Double Degree saya mendapatkan banyak pengalaman dari reasearch and develoment, serta dua gelar yaitu Master Administrasi Publik (M.AP) dan Master of Political Science (M.Pol.Sc). Pengalaman selama menempuh study S2 Double Degree tersebut juga mempengaruhi cara mengajar saya dikelas dengan selalu mengembanganresearch and development, beserta dengan project.

Bagi seluruh teman-teman yang membaca tulisan ini, yakinlah bahwa “tidak ada mimpi yang terlalu tinggi” karena di tangan Tuhan YME semua yang tidak mungkin akan menjadi mungkin!! Tetap semangat.

Foto Bangkok Post: Mae Moh Power Plant: Pemandangan indah yang awalnya hanya berupa lubang-lubang besar bekas tambang. Pemerintah kota setempat menyulapnya menjadi sebuah tempat wisata edukasi yang sangat indah dan menarik. Recoverylubang bekas tambang yang parah mengandalkan serabut kelapa dengan diimbangi inovasi dan maintenance dari berbagai aspek.
Foto: simandan.com: Foto Angsila Mahasiswa diperkenalkan dengan toleransi yang tinggi dari masyarakat Angsila melalui tempat ibadah yang bersebelahan. Budha-Thailand, Kong Huchu – Cina, dan Muslim – Thailand Melayu (yang foto tempat ibadahnya ada di belakang kuil). Tersentralnya tempat ibadah ini merupakan daya tarik untuk wisatawan dan mahasiswa asing dalam mempelajariculture dan aspek sosial masyarakt Thailand.
Foto Trip Savvy.com: kelas lapangan di Ayyuthaya. Mahasiswa diperkenalkan dengan kisah kerajaan Thailand di masa lampau. Mahasiswa mempelajari tentang sejarah kerajaan Thailand sebelum ibu kota kerajaan Siam dipindah ke Bangkok, kehidupan sosial budaya, serta perubahan bentuk baik pemerintahan dan administrative setelah Ayyuthaya jatuh
  • Penulis Retno Wulan Sekarsari, SAP, MAP, M.Pol.Sc adalah Wakil Dekan 2 Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Islam Malang (UNISMA Malang).
  • Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
  • Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
  • Naskah dikirim ke alamat e-mail: kui@unisma.ac.id
  • Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Need Help? Chat with us