Credit Transfer ke Taiwan, Siapa Takut? Oleh Putri Saniatul Iklima Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP UNISMA Malang

Viewed: 95 times.  

Menjadi salah satu delegasi mahasiswa pertukaran pelajar dalam program Transfer Kredit Luar Negeri 2019 yang diselenggarakan oleh Kemenristekdikti di National Dong Hwa University, Taiwan merupakan pencapaian terbaik dalam hidup saya. Terlepas dari semua perjuangan dari proses seleksi hingga menyelesaikan semua persyaratan saat pra-keberangkatan, semuanya terbayar tuntas saat saya akhirnya memijakkan kaki dan melanjutkan studi selama satu semester di Negara yang memiliki julukan The Heart of Asia, The Country of Asus, sekaligus The Country of Boba.  Saya amat bersyukur dapat menghabiskan masa satu semester kuliah ini ditemani panasnya summer dan dinginnya winter selama di Taiwan.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

National Dong Hwa University (NDHU) terletak di Kota Hualien, yang dapat ditempuh sekitar 2-3 jam dari Kota Taipei, merupakan kampus top-10 di Taiwan dengan luas kampus lebih dari 300 hektar. Awalnya tak mudah bagi saya bisa melakukan aktifitas sehari hari selama kuliah di kampus yang dinobatkan sebagai salah satu kampus terluas di Taiwan ini.  Karena jarak dari pintu depan ke pintu belakang kampus saja dapat ditempuh 7-10 menit menggunakan motor. Bersyukur saya dapat tinggal di dormitory 5 di kampus ini walaupun jarak dari dorm ke gedung fakultas tetap jauh, hampir 1 kilometer. Saya terdaftar sebagai salah satu mahasiswa di College of Humanities and Social Sciences atau biasa disebut Fakultas Sosial dan Humaniora lebih spesifiknya di Department of English selama Fall Semester di kampus ini.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Minggu pertama selama masa perkuliahan ternyata tidak semudah yang saya lihat di vlog para mahasiswa international yang mereka unggah di YouTube. Belum usai berkelut dengan cross culture dan language barrier, sistem akademik pun seakan akan terasa momok tersulit di minggu pertama selama kuliah. Mulai dari sistem course selection atau yang kita kenal dengan KRS, pemilihan mata kuliah yang tepat dan sesuai dengan jurusan kita di home university, izin dari beberapa professor (karena tidak semua dosen mau mengajar full berbahasa inggris), dan mewajibkan mahasiswa nternasional untuk mengambil mata kuliah Fundamental Chinese atau Bahasa Mandarin Dasar.

Dilema bagi saya karena harus segera memilih mata kuliah yang sesuai dengan jurusan namun juga harus bisa saya pastikan untuk mendapat nilai memuaskan selama melaksanakan proses perkuliahan. Menjadi mahasiswa pertukaran pelajar bukan hanya tentang jalan-jalan diluar negeri saja, namun beban moral untuk pulang kembali ke Indonesia membawa GPA yang baik agar membanggakan kampus dan keluarga juga merupakan kemelut yang selalu terngiang di kepala selama saya menghabiskan masa studi disana. Saat dinyatakan terpilih sebagai salah satu mahasiswa yang akan melaksanakan program transfer kredit ini, saat itu pula saya harus bersiap sebaik mungkin agar menjadi jembatan kerjasama yang baik antara NDHU dan UNISMA serta menjaga nama baik negara saya, Indonesia.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Minggu pertama perkuliahan saya habiskan untuk membangun komunikasi yang baik antara OIA UNISMA dan NDHU, Fakultas UNISMA dan NDHU, maupun senior PPI di NDHU agar bisa membantu untuk menyelesaikan proses administrasi perkuliahan, rekomendasi mata kuliah yang dapat saya ambil, hingga rekomendasi professor yang mana yang kiranya mau menerima saya sebagai mahasiswa internasional satu satunya di dalam kelas. Ditolak oleh empat professor sempat meruntuhkan hati saya pada saat itu. Lalu apakah saya menyerah saat itu juga dan memutuskan untuk pulang saja ke Indonesia? Tidak. Saya menghabiskan satu hari full hanya bermodal smartphone yang berisi lengkap soft file berkas penting untuk lanjut berkomunikasi dengan professor lain. Dan keesokan harinya bermula dari satu dosen yang mengACC request saya melalui surel, hingga bertambah menjadi tiga hingga enam dosen akhirnya menerima saya untuk bergabung dan mengikuti proses perkuliahan selama satu semester.

Menghabiskan masa belajar selama satu semester rasanya akan sangat membosankan dan tidak asik jika hanya dihabiskan dengan kegiatan belajar, tidur, dan kuliah saja. Jiwa aktifis dan volunteer di dalam diri saya sangat meronta ronta seakan akan di minggu ketiga inilah saatnya saya mulai mencari kegiatan diluar perkuliahan. Bermula dari aktif mengikuti kegiatan PPI NDHU saat acara Cultural Night, hingga kegiatan volunteering dalam acara Taiwan International Cooperation Alliance, TICA CUP oleh ICDF 2019 yang diikuti oleh mahasiswa international dari seluruh universitas di Taiwan, dan kebetulan sekali tuan rumah acara tahunan ini adalah NDHU. Seleksi administrasi dan wawancarapun saya lewati hingga akhirnya saya bisa mengerahkan kemampuan leadership dan communication skill pada hari H pelaksanaan acara ini. Saya merasa sangat beruntung bisa menjadi bagian dalam acara besar ini karena dengan begitu saya bisa memperluas international networking dengan mahasiswa dari berbagai negara di dunia.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Tidak hanya kegiatan sosial yang saya ikuti selama menyelesaikan studi di NDHU. Kegiatan spiritual seperti mengikuti kajian setiap kamis malam, sholat berjamaah dzuhur ashar dan maghrib, hingga membantu menyiapkan acara makan bersama yang diselenggarakan oleh Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan atau disingkat FORMMIT NDHU pun saya ikuti dengan rutin. Menjadi muslim sebagai kaum minoritas di Taiwan memanglah tidak mudah, namun dengan berbekal jiwa Aswaja yang diajarkan selama saya kuliah di UNISMA tetap saya genggam erat agar senantiasa dapat berbaur secara harmoni dan penuh toleransi dengan sesama. Hidup di negara yang mayoritas mengkonsumsi daging babi merupakan pengalaman pertama bagi saya. Sangat susah sekali rasanya untuk menemukan ragam makanan halal di toko, pasar, maupun supermarket. Terkadang harus menunggu pedagang muslim yang menjual makanan dan daging halal dari MUI selama dua minggu satukali. Selebihnya harus mampu menjadi vegetarian selama satu semester disana.

  • Penulis Oleh Putri Putri Saniatul Iklima adalah Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UNISMA Malang Peserta Credit Transfer ke National Dong Hwa University, Taiwan.
  • Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
  • Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
  • Naskah dikirim ke alamat e-mail: kui@unisma.ac.id
  • Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.
Need Help? Chat with us