Beberapa Tradisi Pemandian Warga Jepang Oleh Noriko Sawa Mahasiswi UNISMA Malang Asal Jepang

Menurut jajak pendapat, 94% orang Jepang menyukai mandi berendam di air panas. Berikut adalah beberapa tradisi pemandian warga Jepang.

Sejak zaman dulu, agama Shintou di Jepang  melakukan ritual Misogi. Misogi yaitu mandi di sungai atau air terjun untuk membersihkan diri sebelum beribadah.

Tempat Pemandian Misogi

Pada abad keenam, kedatangan agama Buddhisme ke Jepang menyebarkan kebiasaan mandi bagi masyarakat umum. Maksud mandi dalam agama Buddhisme adalah menghapus kotoran dari tubuh untuk melayani Buddha serta menghapus tujuh penyakit dan memperoleh tujuh kesejahteraan.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Awal mulanya, masyarakat belum terbiasa membenamkan tubuh ke dalam air panas saat mandi. Biasanya, gaya mandi masyarakat Jepang pada waktu itu bernama Furo. Furo merupakan tradisi mandi seperti mengukus tubuh dalam lingkungan beruap kemudian menggosok kotoran yang ada di kulit dan menyiramkan air  ke seluruh tubuh. Furo hampir seperti Sauna. Namun, Furo masih termasuk hiburan yang mewah bagi masyarakat umum.

Furo

Pada akhir abad keenam belas sampai awal abad ketujuh belas, muncul Sentou. Sentou yaitu tempat pemandian air panas untuk umum yang menggunakan bak mandi dan dipanaskan langsung dari bawah dengan kayu bakar. Orang yang ingin mandi dipungut biaya masuk. Biaya masuk saat ini sekitar Rp 65.000,00. Di Sentou, satu bak mandi digunakan untuk mandi berendam bersama-sama oleh beberapa orang sekaligus. Oleh karena itu, Sentou menjadi tempat untuk berkomunikasi di daerah setempat.

Sentou

Setelah Perang Dunia Kedua, perekonomian Jepang meningkat secara drastis. Sehingga dibangun banyak apartamen yang memiliki kamar mandi dalam dengan bak mandi. Hal itu menyebabkan semakin berkurangnya jumlah pemandian Sentou.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Menurut kebanyakan orang Jepang, tujuan pemandian bukan hanya untuk membersihkan tubuh. Tujuan lainnya yaitu untuk bersantai, menghilangkan rasa lelah dalam tubuh dan mental, serta menikmati waktu khusus seperti membaca buku dan menonton video sambil berendam di bak mandi. Menghangatkan tubuh dalam air panas membantu sirkulasi darah menjadi lebih lancar khususnya pada musim dingin. Maka, umumnya orang-orang menyukai mandi pada malam hari sebelum tidur.

Setiap bulan ada tradisi memasukkan buah atau tanaman tertentu ke dalam air panas untuk menikmati aroma dan efeknya bagi kesehatan. Contoh yang terkenal adalah daun Jeringau pada bulan Mei dan jeruk Yuzu pada bulan Desember. Efeknya akan membantu sirkulasi darah dan mencegah masuk angin.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Selain mandi setiap hari di rumah, salah satu hiburan terpopuler di Jepang yaitu pergi ke Onsen, tempat pemandian berendam dengan air panas yang keluar dari bawah tanah. Di Jepang ada banyak sumber air panas karena masih ada banyak gunung berapi yang  aktif. Jenis mineral yang terkandung dalam air menyebabkan perbedaan warna air, bau, dan khasiat.

Lokasi untuk sumber air panas bisa berada dekat atau jauh dari gunung berapi. Menurut Kementerian Lingkungan Hidup, diakui lebih dari 3.000 kota wisata yang berkembang di sekeliling sumber air panas dan 27.400 mata air panas di Jepang pada tahun 2016.

Onsen

Di setiap kota Onsen ada banyak penginapan yang memiliki tempat pemandian air panas. Kebanyakan mereka mempunyai Rotenburo yaitu bak mandi luar di tempat terbuka supaya bisa menikmati pemandangan sekitar. Jika ada kesempatan untuk pergi ke Jepang, silakan mendatangi  salah satu tempat pemandian di Onsen untuk mengenal secara langsung tradisi pemandian di sana.

  • Penulis Noriko Sawa adalah Mahasiswi Program BIPA Universitas Islam Malang (UNISMA Malang)
  • Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
  • Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
  • Naskah dikirim ke alamat e-mail: kui@unisma.ac.id
  • Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.